Manusia dan Realitas

Manusia adalah makhluk yang terikat dengan ruang dan waktu. Manusia hidup di dalam ruang dan waktu tertentu; ia hidup, bertindak, dan mati di dalamnya. Meski begitu, relasi manusia dengan realitasnya bukanlah sesuatu yang statis. Manusia tidak terpisah tetapi pada saat yang sama terpisah sama sekali dengan realitasnya. Ia tidak dapat dipisahkan bukan hanya karena ia hidup di dalamnya tetapi juga ia memberikan makna terhadapnya: ia memberikan nama, membentuk, membentuk-ulang, merusak, membentuk-kembali, dibentuk dan dibentuk-kembali, serta mendapatkan makna dari realitasnya. Tetapi ia juga sama sekali terpisah karena realitas eksis dalam dirinya sendiri tanpa makna yang diberikan oleh manusia: di dalam dirinya sendiri ia eksis namun indifferent terhadap manusia.


            Dalam pembahasan kosmologi, tentu kita akan berfokus pada poin yang pertama; bahwa manusia tidak dapat lepas dari realitasnya. Manusia adalah makhluk yang terikat ruang dan waktu dan dengan demikian pasti terpengaruh oleh konteks ruang dan waktu dimana ia hidup. Misalnya saja, kelompok orang yang tinggal di pegunungan pasti beradaptasi dengan lingkungannya dengan cara hidup yang berbeda dengan kelompok orang yang hidup di gurun pasir. Adaptasi tingkat pertama adalah cara hidup. Kemudian pada ranah metafisis, dalam relasinya dengan realitas, manusia akan membentuk suatu relasi timbal-balik yang harmonis antara dirinya dengan realitas tempatnya hidup.[1] Realitas—yakni ruang dan waktu—bukanlah objek melainkan subjek dalam relasi antara self dengan the others. Ia eksis pada suatu ruang dan waktu yang terbatas, dibentuk menjadi sedemikian rupa olehnya, lalu kemudian membentuk realitas tersebut untuk kemudian menciptakan sebuah relasi timbal-balik yang harmonis. Secara ringkas, realitas yang terbatas dimana sekelompok manusia hidup membentuk manusia untuk hidup dengan cara sedemikian rupa; dengan kata lain, ia membentuk manusia untuk memahami dirinya dengan suatu cara tertentu dalam sebuah relasi yang kompleks dan terbatas. Karena itulah bahkan di sebuah ruang dan waktu yang sama, pemaknaan terhadap realitas bisa berbeda dalam dua kelompok yang berbeda; karena satu interpretasi terbatas dan terpisah dari yang lain. Pada saat yang sama, realitas tanpa manusia tidak memiliki arti apapun dibaliknya; justru karena eksistensi manusia maka realitas menjadi subjek the others dan memiliki makna ketika dialami oleh manusia.[2]


Manusia dan Interpretasi


“…human intellect cannot avoid seeing itself in its perspective forms, and only in them. We cannot see round our corner… The world, on the contrary, has once more become ‘infinite’ to us: in so far we cannot dismiss the possibility that it contains infinite interpretations.

Friedrich Nietzsche, The Gay Science, Book V, §374: Our new “Infinite”

           Dunia manusia adalah dunia interpretasi yang terus menerus berubah. Manusia hidup dalam realitas yang terbatas dan dengan demikian interpretasinya terhadap realitas juga terbatas pada dirinya sendiri. Misalnya saja dalam hal cinta: orang-orang Mesopotamia mempersonifikasikannya melalui dewi Ishtar; orang-orang Mesir Kuno menyebutnya Hathor; orang-orang Yunani Kuno membaginya menjadi banyak kategori mulai dari Aphrodite hingga Eros; orang-orang Romawi menyebutnya Cupid; dan seterusnya. Dalam berbagai interpretasi mengenai cinta tersebut, ia tidak pernah berdiri sendiri. Ishtar misalnya, adalah dewi cinta dan perang; yang lain kerap kali dikaitkan dengan kesuburan, nafsu, hasrat, dan lain sebagainya. Tidak ada satu interpretasi yang baku mengenai cinta; ia terus berubah dan berkembang sejalan dengan konteks ruang dan waktu yang terbatas. Satu interpretasi akan menggantikan yang lain; pada saat yang sama, interpretasi yang lama justru mendapatkan makna baru dalam interpretasi baru.[3]

           Implikasi pertama yang perlu dijelaskan dari skema di atas adalah mengenai kebenaran eksistensial dari sebuah interpretasi. Relasi manusia dengan realitas adalah relasi antara subjek dengan the others. Manusia dibentuk dan diberikan makna oleh realitas; manusia membentuk ulang dan memberi makna pada realitas; dan seterusnya. Dalam hal ini, kebudayaan, sebagai wujud abstrak—beserta dengan produk-produk budaya sebagai wujud konkret—menjadi bukti dari eksistensi manusia pada suatu konteks ruang dan waktu yang terbatas. Ia menjadi bukti otentik dari perubahan yang dialami oleh manusia dan realitas; keduanya sebagai subjek yang saling terkait.[4] Implikasi kedua adalah keberlangsungan. Interpretasi baru tidak mungkin ada tanpa sesuatu yang mendahuluinya; interpretasi baru terhadap sebuah kebudayaan—dalam konteks pelestarian—dengan demikian adalah interpretasi atas interpretasi. Ia menjadi bentuk baru dari interpretasi lama dan menghidupkannya kembali dari materia baru. Dalam contoh skema sebelumnya mengenai cinta misalnya, “cinta” tidak dipandang sebagai semata-mata objek melainkan subjek—dalam personifikasinya. Kemudian, cinta dalam sebuah interpretasi tidak pernah berdiri sendiri. Aphrodite misalnya, adalah dewi cinta seksual dan kecantikan. Dalam interpretasi ini, cinta tidak berdiri sendirian melainkan dipengaruhi oleh interpretasi sebelumnya mengenai cinta dalam seksualitas. Cinta akan berujung pada tindakan seksual, atau bisa juga sebaliknya. Pandangan tersebut kemudian berkembang dalam wujud personifikasi cinta dalam dewi Aphrodite: ia adalah materialisasi dari interpretasi terdahulu. Kemudian interpretasi baru muncul mengenai cinta dan orang-orang Yunani membaginya menjadi berbagai kategori. Misalnya saja cinta yang berkaitan dengan cinta terhadap diri, cinta universal, cinta seksual, cinta obsesif, dan lain sebagainya. Bentuk-bentuk baru ini bukanlah kematian dari interpretasi sebelumnya tetapi keberlangsungan dalam materia lain namun dengan forma yang sama.

Kesimpulan

           Manusia adalah makhluk yang terikat dalam ruang dan waktu yang terbatas. Realitas manusia menjadi diskursus yang membentuk tetapi juga dibentuk oleh manusia. Relasi antara manusia dengan realitasnya adalah sebuah timbal balik yang harmonis baik secara praktis maupun metafisis. Secara praktis, manusia membentuk realitas sedemikian rupa untuk mempermudah kehidupannya; di sisi lain, ia menjadi relasi yang harmonis untuk menjaga realitas tersebut agar tetap lestari. Secara metafisis, relasi manusia dengan realitasnya adalah relasi antara subjek manusia sebagai agen dengan realitas sebagai the others. Manusia dan realitas sama-sama memberikan makna satu dengan yang lain yang terus berkembang. Interdependensi ini termaterialisasi dalam kebudayaan yang dibentuk oleh manusia. Ia terus berkembang sebagai sebuah interpretasi terhadap realitas yang terbatas; namun ia juga menembus keterbatasan tersebut dalam interpretasi-interpretasi baru. Ia (kebudayaan) terus menerus menyesuaikan diri dengan konteks ruang dan waktu yang terus berubah; namun pada saat yang sama ia juga menjadi bukti dari eksistensi relasi antara manusia dengan realitas di masa lalu.


[1]Neonbasu, Gregor. Etnologi: Gerbang Memahami Kosmos. 2021. Reprint, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2021. p. 12.

[2] Ibid. p. 13.

[3] Ibid. p. 15.

[4] Ibid. p. 15.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Privacy Police

About Versalitera

Term of Use

Contact Info

Designed by Notreallydie